Niat Piknik Malah Bikin Darah Tinggi: Mengais Kasur dan Plastik di Kali Surabaya

Reporter : Siti Marahmi
Peserta memunguti sampah plastik yang ngambang di sepanjang jalur susur sungai. Foto: Ecoton

NYELATU.COM - Bayangkan, Rek. Sampeyan sudah dandan rapi, niat hati pengin piknik tipis-tipis sambil naik perahu di Kali Surabaya.

Eh, begitu boat jalan, bukannya pemandangan asri yang didapat, mata sampeyan malah disuguhi pemandangan biadab: tumpukan sampah plastik mengapung dan buntelan kasur bekas terbakar teronggok santai di bibir sungai. Jan-jane otake pembuang sampah ini dipasang di mana, sih?

Realita keparat inilah yang ditemui belasan pelajar SMKN 1 Cerme dan mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) saat ikutan program Wisata Kali Surabaya gelaran ECOTON, Minggu (11/10/2026).

Rute yang melintasi Desa Wringinanom, Lebani Waras, sampai Sumengko di Kabupaten Gresik ini mulanya diniatkan buat mengenalkan keanekaragaman ikan endemik Kali Surabaya.

Tapi ujung-ujungnya? Jelas berubah jadi agenda mengelus dada dan kerja bakti darurat akibat pencemaran Kali Surabaya yang makin keterlaluan.

Coba bayangkan perasaannya Karin, siswi SMKN 1 Cerme. Arek iki niatnya pengin cuci mata dan sinau soal lingkungan. Tapi pas perahu melaju, tatapannya malah tertancap pada gunungan sampah plastik sungai yang nyangkut di ranting pohon dan menutupi bantaran.

"Kaget beneran saya. Lingkungan Kali Surabaya ternyata sudah secemar ini gara-gara kelakuan orang asal lempar sampah," katane Karin sambil garuk-garuk kepala yang enggak gatal.

Gak cuma Karin, Lid Debora Widodo, mahasiswi Hubungan Internasional UB, ya langsung naik darah. Perahu yang dikeluanginya harus melewati area berbau busuk menyengat dari bangkai limbah rumah tangga.

Ditambah lagi pemandangan kasur bunting yang separuh gosong nyangkut di pinggir kali. Iki kali opo tempat pembuangan akhir (TPA) raksasa, Rek?

"Piye nasibe habitat ikan lokal kalau rumahnya disumpali kasur karo plastik kayak gini? Benar-benar ngerusak emosi! Nanti begitu musim hujan tiba, debit air naik, sampah-sampah ini bakal balik menyerang kita dalam bentuk bencana dan penyakit. Kelakuan bodoh yang dipelihara!" cerocos Debora blak-blakan dengan nada geram.

Koordinator Program Petro-Tirta ECOTON Gresik, Amalia Fibrianty, menyebut wisata unik iki memang sengaja dirancang bukan cuma buat hura-hura naik kapal. Tapi biar generasi muda bisa melihat langsung borok ekologis sungai kita yang sudah dalam taraf darurat. Karena kalau cuma teori di kelas tanpa ngerasain sangit dan bacinnya banyu kali, masyarakat enggak bakal sadar-sadar!

Kecewa dan emosi para peserta akhirnya dilampiaskan lewat aksi nyata. Selain memunguti sampah plastik yang ngambang di sepanjang jalur susur sungai, mereka menanam 25 bibit pohon beringin, cemara udang, sukun, hingga jeruk lemon lokal di kawasan Suaka Ikan Kali Surabaya, Desa Lebani Waras. Minimal ada usaha membentengi bantaran biar enggak makin hancur digerus kerakusan manusia.

Cangkrukan kita hari ini menyisakan satu pertanyaan tajam: sampai kapan warga di sepanjang bantaran bertingkah primitif dengan menjadikan sungai sebagai tong sampah gratisan?

Air Kali Surabaya itu bahan baku utama air minum sing sampeyan pakai mandi dan minum saban hari. Kalau sungainya sampeyan racuni pakai limbah dan kasur, ya tinggal tunggu tanggal mainnya aja kita panen penyakit massal. Eling, Rek, eling!

Editor : Siti Marahmi

Trending Minggu Ini
Berita Terbaru