Sucipto, Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya

NYELATU.COM - Beberapa tahun belakangan ini, ada pemandangan menarik sabtu-minggu pagi di Kota Pahlawan. Kalau dulu hari libur adalah momen terbaik buat rebahan seharian sambil scrolling medsos, sekarang trennya sudah geser: semua orang mendadak jadi pelari.

Mulai dari yang niatnya murni cari keringat, kaum FOMO yang incer jersey sama medali finisher lucu, sampai yang cuma butuh bahan konten POV buat Instagram Reels dengan OOTD ratusan ribu.

Fenomena sport tourism ini memang keren. Kota jadi kelihatan hidup, energik, dan penuh semangat hidup sehat.

Tapi di balik aesthetic-nya foto-foto pelari yang melintasi jalanan protokol Surabaya, ada realita lain yang dihadapi warga lokal: kemacetan akibat pengalihan arus lalu lintas yang mendadak.

"Bayangkan saja kalau satu kali event bisa mendatangkan ribuan orang dari luar kota. Okupansi hotel pasti naik, dampak ekonominya bagus," tutur Sucipto, Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya.

Pernyataan akademisi asal Sumenep ini ada benarnya. Secara teori bisnis, kedatangan ribuan orang luar kota bikin kamar hotel laku keras, penjual kuliner panen rezeki, dan ekonomi daerah berputar kencang.

Tapi ya itu tadi, dampak dominonya kadang bikin warga lokal cuma bisa mengelus dada saat hendak beli sarapan tapi jalurnya ditutup pita barikade.

Jangan Sampai Niat Sehat Bikin Orang Lain Darah Tinggi

Masalah utama dari maraknya event lari jalanan sejatinya bukan pada larinya, melainkan pada penentuan rute dan komunikasi.

Jangan sampai acara yang tujuannya menyebarkan kebahagiaan dan kesehatan ini malah memicu emosi warga yang terjebak macet berjam-jam.

Oleh karena itu, penataan rute yang matang dengan melibatkan kepolisian dan dinas terkait adalah harga mati.

Dosen UT Surabaya tersebut juga mendorong Pemkot Surabaya untuk lebih canggih lagi, buat paket wisata olahraga yang terintegrasi. Jadi peserta fun run dari luar kota gak cuma lari, foto, terus pulang, tapi juga diajak jajan ke UMKM lokal dan menikmati wisata kota.

Bahkan kalau mau dioptimalkan lagi, potensi alam Jawa Timur yang megah seperti pegunungan bisa digarap untuk trail run lintas alam, bukan cuma numpuk di jalanan kota yang sudah padat.

Sosialisasi Jangan Cuma di Instagram, Tembus Sampai Grup WA RT/RW

Salah satu kritik paling rasional untuk penyelenggara acara adalah soal sosialisasi. Sering kali pengumuman penutupan jalan cuma diunggah di feed medsos H-1 acara. Walhasil, warga yang gak main medsos kaget saat mau berangkat kerja atau belanja.

Sucipto menegaskan pentingnya saluran komunikasi yang menyasar level akar rumput.

"Perlu pendekatan khusus, sosialisasi bahkan sampai kelurahan, RT, dan RW. Saluran media komunikasi di Kota Surabaya itu sangat bagus, itu yang harus dimaksimalkan agar semua orang senang," tegasnya.

Ide ini sangat relevan. Kalau info penutupan rute diumumkan jauh-jauh hari di grup WhatsApp RT/RW yang stands out dengan stiker-stiker bapak-bapaknya, warga bisa mengantisipasi jalur alternatif tanpa harus marah-marah di jalan.

Sport tourism memang angin segar buat pariwisata dan gaya hidup sehat kota. Namun, sinergi antara kesenangan peserta lari dan kenyamanan warga yang cuma mau beli bubur ayam tanpa kena pengalihan jalan adalah kunci utama.

Semoga saja ke depannya, Surabaya makin rapi mengelola event-event olahraga ini. Biar yang lari dapat sehatnya, yang jualan dapat cuannya, dan warga lokal tetap bisa menikmati akhir pekan tanpa drama jalanan ditutup.

 

Editor : Siti Marahmi

Berita Terbaru