TTL Luncurkan Lamong Cukur, Buka Peluang Kerja bagi Warga Ring 1
TTL membekali warga Ring 1 atau masyarakat yang tinggal di sekitar terminal dengan keterampilan barbershop. Foto/TTL
SURABAYA - PT Terminal Teluk Lamong (TTL) meluncurkan program Lamong Cukur, inovasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang menghubungkan pelatihan keterampilan dengan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Program ini sekaligus menghadirkan layanan cukur rambut bagi pengguna jasa dan pengemudi truk yang beraktivitas di terminal.
Melalui program tersebut, TTL membekali warga Ring 1 atau masyarakat yang tinggal di sekitar terminal dengan keterampilan barbershop. Tidak berhenti pada pelatihan, perusahaan juga membuka kesempatan bagi peserta untuk bekerja sebagai barber setelah menjalani pemagangan di barbershop profesional.
Program Lamong Cukur dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui peningkatan kompetensi dan akses terhadap pekerjaan. Inisiatif ini juga sejalan dengan semangat Danantara dalam mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas melalui pemberdayaan masyarakat.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, mengatakan program TJSL perlu diarahkan pada kegiatan yang menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar memberikan pelatihan.
“Yang paling penting adalah bagaimana keterampilan yang diberikan dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkarya, bekerja, maupun berwirausaha secara mandiri. Kami ingin program TJSL tidak berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar mampu menciptakan peluang ekonomi,” ujar David.
Lamong Cukur mulai dijalankan melalui pelatihan pada 10–12 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari teknik mencukur rambut, mulai dari keterampilan dasar hingga penerapan standar pelayanan barbershop.
Setelah pelatihan, peserta menjalani magang sepanjang September 2026 di barbershop profesional. Tahap ini memberikan pengalaman kerja langsung sekaligus mengasah kemampuan teknis, pelayanan pelanggan, kedisiplinan, dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
Rangkaian pembekalan tersebut mengantarkan peserta dari masyarakat Ring 1 untuk terserap sebagai barber di Lamong Cukur. Capaian ini menunjukkan bagaimana program pemberdayaan dapat menghubungkan peningkatan keterampilan dengan kesempatan kerja secara langsung.
Bagi masyarakat sekitar, skema pelatihan, magang, dan penyerapan tenaga kerja tersebut membuka jalur untuk memperoleh penghasilan sekaligus membangun pengalaman profesional. Keterampilan yang diperoleh juga berpotensi menjadi modal bagi peserta yang ingin mengembangkan usaha secara mandiri.
Selain menyasar pemberdayaan masyarakat, Lamong Cukur menghadirkan manfaat praktis bagi pengguna jasa terminal. Pengemudi truk dan pengguna jasa lainnya dapat memanfaatkan layanan cukur rambut ketika menunggu proses pelayanan atau beristirahat di lingkungan Terminal Teluk Lamong.
Kehadiran layanan ini memungkinkan waktu tunggu dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi, sekaligus memperluas fungsi program TJSL agar memberikan manfaat bagi masyarakat pekerja yang beraktivitas di kawasan terminal.
David mengatakan TTL akan terus memetakan potensi dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional untuk menentukan pengembangan program serupa.
“Ke depan, kami akan terus memetakan potensi dan kebutuhan masyarakat sekitar. Jika program ini berkembang dengan baik dan kebutuhannya memang ada, Lamong Cukur dapat dikembangkan ke lokasi berikutnya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat,” katanya.
Camat Asemrowo, Zul Chaidir, mengapresiasi inisiatif TTL yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar, khususnya melalui penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan keterampilan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada PT Terminal Teluk Lamong yang selama ini telah memberikan berbagai kontribusi kepada masyarakat, baik melalui penciptaan kesempatan kerja, peningkatan keterampilan, maupun program-program pemberdayaan lainnya. Kami berharap sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat ini dapat terus berkelanjutan,” ujar Zul.
Melalui Lamong Cukur, TTL berupaya mengembangkan program TJSL yang menghubungkan kebutuhan sosial masyarakat dengan aktivitas operasional perusahaan. Model pemberdayaan berbasis keterampilan dan penyerapan tenaga kerja tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi warga sekaligus menghadirkan nilai tambah bagi ekosistem terminal.
Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada kesesuaian layanan dengan kebutuhan pengguna serta peluang pengembangan keterampilan dan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Editor : Redaksi