Foto ilustrasi Gemini AI

NYELATU - Pemerintah kadang hobi banget cuma melempar imbauan manis. Padahal, saat aplikasi High Game Island (HGI) dan judi online sukses merusak ekonomi keluarga sampai bikin pusing tujuh keliling, negara mesti turun tangan secara nyata. Bukan cuma tebar pesona lewat slogan anti-judol.

Komisi A DPRD Jawa Timur sempat buka-bukaaan data pada 28 Mei 2025 lalu.

Tercatat ada 51 orang yang harus mendekam sebagai pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya gara-gara kecanduan judi daring.

Parahnya lagi, ada anak umur 14 tahun yang ikut terseret arus setan digital ini.

Bukti kalau judol bukan sekadar urusan kalah duit di meja virtual. Mental anak bangsa ikut ambruk, masa depan pendidikan berantakan, dan keluarga jadi korban kesekian.

Padahal, Jawa Timur punya Perda Nomor 12 Tahun 2025 tentang Trantibum Linmas. Di Pasal 20B sampai 20C, sudah jelas diatur soal fasilitasi pencegahan judi digital hingga patroli siber.

Tapi kok ya rasanya aturan ini masih adem ayem jadi pajangan birokrasi? Padahal dinas terkait tinggal eksekusi di lapangan.

Tentu saja, kita tidak boleh asal tuduh tanpa bukti hukum yang sah. Kalau HGI mau dibubarkan, buktikan dulu lewat mekanisme hukum yang bener, bukan sekadar tebak-tebakan di tongkrongan.

Aparat penegak hukum dan pemda harus saling gandeng tangan, bukannya malah saling lempar bola tanggung.

Data 51 pasien RSJ Menur itu alarm keras bahwa korban butuh pertolongan nyata, bukan sekadar statistik buat bahan rapat kantor. Mari kita kawal bareng-bareng tanpa harus uring-uringan sendiri.

Sudah-sudah, tarik napas dulu. Biasa aja lah, yang penting aturan jalan dan korban diselamatkan.

Catatan: Artikel ini ditulis oleh Jurnalis Siagaindonesia Bambang Widodo, dan disadur sesuai gaya nyelatu.com

Editor : Siti Marahmi

Berita Terbaru